Index Literasi

Indonesia termasuk negara yang belum berhasil dalam pembangunan literasi. Meskipun hampir seluruh masyarakatnya telah memiliki keterampilan membaca, menulis, dan berhitung tingkat dasar, minat baca rata-rata masyarakat Indonesia masih sangat rendah.

Laporan dari UNESO menunjukkan bahwa minat baca rata-rata penduduk Indonesia yang tercermin pada indikator alokasi waktu untuk membaca adalah 2-4 jam per hari, atau berada di bawah standar UNESCO rata-rata 4-6 jam perhari, dan sangat jauh di bawah negara-negara maju dengan rata-rata 6-8 jam per hari.

Jika masalah minimnya alokasi waktu membaca ini dikaitkan dengan jenis-jenis bahan bacaan yang diakses dan metode membaca, maka layak diduga tingkat literasi masyarakat Indonesia berada dalam kondisi yang lebih buruk lagi.

Hal ini tampak misalnya pada hasil survei bertajuk “The World Most Literate Nations” (2016) yang dilakukan oleh Dr. John Miller, Presiden Central Connecticut State University in New Britain, menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara yang disurvei dalam hal perilaku membaca.

Kondisi literasi yang masih jauh dari optimal ini berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia Indonesia yang masih terpuruk. Selain tampak pada rendahnya daya saing ekonomi yang seturut dengan masih rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia di antara negara-negara lain, keterpurukan sumber daya manusia Indonesia juga tercermin pada kegagapan masyarakat dalam merespons dinamika sosial ekonomi, politik, dan budaya dalam lanskap lokal, nasional, maupun global.

Untuk merespon kondisi yang kurang menguntungkan itu, Qureta berinisiatif membuat suatu index yang kami sebut Index Literasi Indonesia. Index adalah sebuah alat ukur untuk mengetahui sejauh mana pencapaian kita dalam suatu bidang atau suatu masalah.

Index Literasi Indonesia dimaksudkan sebagai pengukur tingkat literasi masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Dengan basis penelitian di seluruh provinsi Indonesia, Index Literasi Indonesia berusaha menjadi petunjuk untuk melihat kondisi literasi kita secara nasional.